Gagal, Tim Nasional Indonesia U-23 Tetap Harus Didukung

Kegagalan tim nasional Indonesia pada kualifikasi Piala Asia U-23 tidak seharusnya menjadi ajang penghakiman kepada pemain dan ofisial. Sebaliknya, skuad Garuda Muda butuh dukungan mengingat mereka harus bersiap menghadapi SEA Games 2019 Filipina.

Timnas U-23 antiklimaks di Vietnam. Andy Setyo dkk yang ditargetkan lolos ke putaran final tahun depan justru tampil di bawah ekspektasi. Mereka dipermalukan Thailand dengan skor 0-4 dan kalah tipis 0-1 dari tuan rumah Vietnam. Padahal, pada ajang Piala AFF satu bulan lalu, kedua tim tersebut mampu diatasi skuad Garuda Muda. Bola Tangkas.

Kehadiran dua pemain baru, yakni Egy Maulana Vikri dan Saddil Ramdani justru tidak mampu meningkatkan performa tim. Kondisi ini membuat keduanya menjadi sasaran kritik suporter lewat media sosial, khususnya Egy. Pemain bernomor punggung 10 tersebut dinilai tidak memberikan kontribusi maksimal kepada tim.

Pada laga melawan Vietnam, pemain klub Polandia Lechia Gdanks itu hanya sekali melakukan percobaan dan tidak bisa berbuat banyak karena mendapat pengawalan ketat. Kritik pedas yang ditujukan kepada skuad Garuda Mudaini mendapat respons dari mantan penyerang tim nasional Indonesia Greg Nwokolo.

Lewat akun media sosialnya, pemain naturalisasi asal Nigeria itu menyatakan jika hujatan kepada timnas saat menderita kekalahan justru akan menjatuhkan mental pemain. Dia mencontohkan suporter Thailand ketika mendukung klub maupun timnasinya. Penggawa Madura United itu menyebut penggemar sepak bola di Negeri Gajah Putih akan selalu berada di belakang seluruh pemain dalam kondisi terburuk sekalipun.

“Sementara kita di Indonesia hanya mendukung ketika menang. Itu sebabnya, pemain Thailand tidak pernah takut untuk mencoba sesuatu di lapangan,” tulis Greg. Pemain berusia 33 tahun itu mengatakan, dari pengalamannya dua tahun bermain di Liga Thailand, dia tidak pernah mengalami suporter maupun media mengkritik keras pemain sendiri.

Sebaliknya, mereka memberikan dukungan positif ketika menderita kekalahan dan memberikan pujian saat menang. Saya bangga. Kalian telah memberikan segalanya, tetap angkat kepala dan terus bergerak maju, langit adalah batasmu,” tambahnya, lewat akun Instagram @greg11n.

Ya, skuad Garuda Mudayang diproyeksikan menjadi kerangka timnas senior ini memang masih akan melakoni satu turnamen penting tahun ini. Pada SEA Games 2019 Filipina, anak asuh Indra Sjafri dibebankan target meraih medali emas yang terakhir kali diraih pada 1991. Pada penyelenggaraan terakhir di Kuala Lumpur, Malaysia, Indonesia hanya meraih medali perunggu.

Pelatih Indra juga meminta kepada publik untuk tidak menyalahkan pemain atas kegagalan menembus putaran final Piala Asia di Thailand, tahun depan. Menurut dia, hasil ini merupakan tanggung jawabnya sebagai pelatih kepala. “Semua tanggung jawab ada di tangan saya, jangan menyalahkan Egy, jangan menyalahkan Marinus (Mariyanto Wanewar), jangan menyalahkan individu pemain, itu tidak baik,” tandasnya.

Menurutnya, dukungan saat menderita kekalahan justru akan membuat pemain bergairah dalam menebus kegagalan. Indra menyebut anak asuhnya sudah berjuang dan harus mendapat apresiasi. “Sepak bola memang seperti itu. Seandainya lolos, saya yakin Egy tidak dinilai salah, ini kankarena kekalahan. Saya enggak mau menyalahkan individu pemain,” tuturnya.

Timnas masih akan melakoni satu laga terakhir kualifikasi Piala Asia U-23 kontra Brunei Darussalam, hari ini. Pertandingan melawan tim terlemah di Grup K ini sudah tidak menentukan bagi skuad Garuda Mudamengingat peluang mengejar perolehan angka Thailand dan Vietnam sudah tertutup. Meski demikian, timnas tetap membidik angka penuh agar tetap pulang dengan kepala tegak. Kemenangan akan menjadi pelipur setelah menelan dua kekalahan beruntun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *