Arsip Kategori: Copa America

Skuat Terbaik Copa America 2015

CHILE, Cutejapanese.org – Gelaran Copa America 2015 resmi berakhir pada Minggu 5 Juli 2015 pagi WIB dan tuan rumah Chile berhasil menjadi kampiun setelah di partai puncak berhasil menaklukkan Argentina lewat babak adu penalti. Seusai final, pihak penyelenggara langsung memilih 11 pemain terbaik yang masuk sebagai skuat impian Copa America 2015.

Sang jawara Chile mendominasi dengan memasukkan lima nama pemainnya masuk dalam skuat impian Copa America 2015. Sementara itu, runner-up turnamen, Argentina mengutus tiga wakil.

Pihak penyelenggara memilih formasi 3-4-3 dalam tim impian Copa America kali ini. Dua pemain yang menjadi top skor, Eduardo Vargas (Chile) dan Paolo Guerrero (Peru) terpilih masuk mengisi lini depan. Satu nama lagi, yakni Lionel Messi.

Di posisi gelandang, kuartet Christian Cueva (Peru), Marcelo Diaz (Chile), Javier Mascherano (Argentina), dan Arturo Vidal (Chile) terpilih sebagai yang terbaik di lini tengah.

Di lini belakang, bek Kolombia Jeison Murillo terpilh masuk tim impian sebagai satu-satunya pemain yang negaranya tidak lolos ke semifinal. Murillo akan bertandem dengan Gary Medel (Chile) dan Nicolas Otamendi (Argentina). Di posisi penjaga gawang La Roja Claudio Bravo terpilih setelah dirinya juga terpilih sebagai kiper terbaik turnamen.

Nama pelatih Chile, Jorge Sampaoli melengkapi susunan tim impian ini. Pria asal Argentina itu dipilih karena berhasil membawa tim asuhannya menjuarai Copa America untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Messi Tolak Gelar Pemain Terbaik

SANTIAGO, Cutejapanese.org — Chile meraih tahta sebagai kampiun Copa America 2015 usai menaklukkan Argentina melalui drama adu penalti, Sabtu (4/7/2015) pagi dini hari WIB. Namun, siapakah Pemain Terbaik Copa America 2015 yang berhak meraih trofi Bola Emas?

Penyerahan trofi Bola Emas biasanya dilakukan sebelum penyerahan gelar juara untuk tim. Penjaga gawang Chile, Claudio Bravo, memperoleh trofi Sarung Tangan Emas sebagai kiper terbaik, sedangkan penyerang Chile, Eduardo Vargas, meraih Sepatu Emas untuk penghargaan sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.

Akan tetapi, hingga selesai prosesi penyerahan trofi juara untuk Chile, tak ada pengumuman pemain terbaik turnamen.

AS melaporkan, seharusnya trofi Bola Emas Copa America 2015 jatuh ketangan pemain asal Argentina, Lionel Messi. Namun, La Pulga menolak penghargaan tersebut.

Ini bukan kali pertama Messi menolak status sebagai pemain terbaik. Pada laga pembuka melawan Paraguay, Messi juga menolak penghargaan tersebut.

Hal ini cukup beralasan. Bagi Messi, sebagai salah seorang pemain yang telah meraih berbagai gelar individu baik di level tim maupun negara, penghargaan individu bukanlah target utama bersama tim nasional. Kapten Tim Tango itu sangat menginginkan gelar juara bersama timnya. Hal itu bisa dilihat dari reaksi Messi seusai dikalungi medali perak.

Tahun lalu, Messi juga dianugerahi gelar Pemain Terbaik Piala Dunia 2014. Namun, banyak komentar miring muncul lantaran penghargaan tersebut dianggap sebagai “hadiah hiburan” bagi Messi.

Hal yang sama terjadi pada gelaran Copa America 2015 kali ini. Alih-alih mendapatkan “gelar hiburan” serupa, Messi menolaknya sehingga trofi Bola Emas tak menjadi milik siapa pun.

Menang Adu Penalti, Chile Rengkuh Juara Copa America 2015

SANTIAGO, Cutejapanese.org — Chile merengkuh gelar Copa America untuk pertama kalinya setelah mampu menang atas Argentina pada laga final yang dihelat di Estadio Nacional Julio Martinez, Sabtu atau Minggu (5/7/2015) dini hari WIB. Chile menang 4-1 melalui adu penalti, setelah pada waktu normal 2 x 45 menit dan waktu tambahan 2 x 15 menit sama kuat 0-0.

Alexisis Sanchez menjadi penentu kemenangan Chile setelah dalam drama adu penalti yang menegangkan tersebut, ia berhasil mengecoh kiper Sergio Romero dengan tendangan penalti ala Panenka. Sementara di kubu Argentina, hanya Lionel Messi yang berhasil mencetak gol, sedangkan dua eksekutor lainnya, Gonzalo Higuain dan Ever Banega, tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Dari lima kali kesempatan tampil di partai puncak setelah 1955, 1956, 1979, dan 1987, Ini merupakan titel pertama Chile dalam 99 tahun sejarah gelaran Copa America. Sementara itu, Argentina, yang telah 14 kali menjuarai ajang ini, lagi-lagi harus menunda keinginan mengakhiri paceklik gelar internasional dalam 22 tahun terakhir. Sebelumnya, mereka pun gagal pada final Piala Dunia Brasil karena kalah 0-1 dari Jerman.

Sejak wasit Wilmar Roldan membunyikan peluit kick-off, laga kedua tim berlangsung ketat. Chile, yang selaku tuan rumah, langsung menggebrak dengan serangan berbahaya.

Arturo Vidal memberikan ancaman setelah menerima umpan Alexis Sanchez, pada menit ke-13. Beruntung, kiper Sergio Romero sangat sigap mengantisipasi sehingga selamatlah gawang Argentina.

Setelah itu, Chile terus berusaha menguasai pertandingan. Pada menit ke-22, peluang kembali diperoleh Eduardo Vargas, tetapi tendangannya masih melambung di atas mistar gawang.

Argentina pun sempat membuat pendukung tuan rumah tersentak, ketika pada menit ke-20 sundulan Sergio Aguero dari dalam kotak penalti langsung mengarah ke mulut gawang. Beruntung Claudio Bravo mampu bereaksi dengan baik untuk menghalaunya.

Argentina harus kehilangan Angel di Maria, yang mengalami cedera pada menit ke-29. Pelatih Gerardo Martino terpaksa menggantikannya dengan Ezequiel Lavezzi.

Masuknya pemain Paris Saint-Germain ini cukup memberikan harapan postitif. Di pengujung babak pertama, Argentina melancarkan serangan dari sayap kiri melalui Javier Pastore. Bola yang diumpan ke mulut gawang langsung disambut Lavezzi, tetapi lagi-lagi Bravo membuat penyelamatan gemilang dengan mengebloknya. Babak pertama berakhir 0-0.

Usai turun minum, Chile tetap mendominasi laga. Serangan banyak dilakukan melalui sisi kiri pertahanan Argentina. Akan tetapi, lagi-lagi kurang tenangnya Chile dalam melakukan penyelesaian akhir membuat gol yang diharpkan tak kunjung datang.

Pada menit ke-87, Argentina sempat menciptakan gol melalui tendangan Lavezzi. Sayang, wasit menganulirnya karena Lavezzi sudah dalam posisi offside saat menerima umpan dari Messi. Di pengujung laga pun, Argentina kembali mendapatkan peluang, tetapi sontekan Higuain menyambut umpan silang Lavezzi hanya mengenai sisi kiri gawang Bravo. Alhasil, pertandingan dilanjutkan ke perpanjangan waktu.

Selama babak perpanjangan, tetap tak ada gol yang tercipta. Status pemenang pun harus ditentukan lewat adu penalti.

Dalam drama tersebut, Chile tampil sangat percaya diri. Empat penendangnya, yang dimulai dari Mati Fernández, disusul Arturo Vidal, Charles Aranguiz, hinggal Alexis Sanchez, berhasil menjebol gawang Romero.

Sebaliknya, Argentina tak berdaya menghadapi adu tendangan penalti ini. Setelah gol Messi, pasukan Albiceleste justru melempem karena tendangan Higuain melayang dan eksekusi Banega di sisi kiri gawang bisa dihalau Bravo. Chile pun menang 4-1, dan berhak menyandang sebagai jawara Copa America 2015.

Raih Hasil Positif, Peru Bersiap Hadapi Pra-Piala Dunia 2018

CONCEPCION, Cutejapanese.org – Keberhasilan Peru meraih posisi ketiga Copa America 2015 disambut suka cita oleh seluruh tim dan ofisial. La Blanquirroja berhasil mempertahankan prestasi yang diraih pada gelaran Copa America 2011. Hal itu merupakan hasil positif dan melampaui ekspektasi awal skuat yang hanya menargetkan lolos dari fase grup.

Peru menempati posisi ketiga setelah meraih kemenanga atas Paraguay 2-0, pada laga yang digelar di Estadio Municipal de Concepcion, Jumat atau Sabtu (4/7/2015) pagi WIB. Dua gol kemenangan Peru pada laga tersebut dicetak oleh Andre Carrillo dan Jose Paolo Guerrero pada babak kedua.

“Target kami adalah lolos dari fase grup. Aku harap, seluruh rakyat Peru bangga atas kerja hebat tim ini,” ujar Guerrero yang didaulat menjadi man of the match pada laga tersebut. “Kemenangan pada laga ini didedikasikan tim untuk seluruh keluarga kami.” tambahnya.

Finis diposisi ketiga pada gelaran Copa America 2015 menjadi modal berharga bagi Peru untuk menghadapi tantangan selanjutnya yaitu Pra-Piala Dunia 2018, yang akan dimulai pada 5 Oktober mendatang.

“Kami bisa finis di posisi bagus. Namun, ke depannya, kami ingin tampil lebih baik lagi,” kata pelatih Ricardo Gareca.

“Kami sudah dinanti tantangan yang lebih besar. Kami harus mempersiapkan tim dengan cara terbaik. Sebab, tim ini masih belum menunjukkan potensi terbaiknya,” ujar pelatih asal Argentina itu.

Masyarakat Peru memang memimpikan tim kesayangannya tampil di Piala Dunia. Sejak terakhir kali tampil pada 1982, belum sekali pun La Blanquirroja merasakan tampil di putaran final turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.

Peru Kalahkan Paraguay di Perebutan Tempat Ketiga

CONCEPCION, Cutejapanese.org – Peru meraih tempat ketiga Copa America 2015 setelah menaklukkan Paraguay 2-0 pada laga perebutan juara ketiga Copa America 2015, yang dihelat di Estadio Municipal de Concepcion, Jumat atau Sabtu (4/7/2015) pagi WIB.

Sejak wasit meniup peluit tanda laga dimulai, Peru tampil menekan. Hal itu terlihat saat pertandingan baru berjalan tujuh menit, Peru hampir unggul terlebih dahulu jika bola tendangan dari luar kotak penalti yang di lepaskan Yordy Reyna tak mampu dihalau kiper Paraguay, Justo Villar.

Paraguay mulai mencoba keluar dari tekanan para pemain Peru pada pertengahan babak pertama. Pada menit ke-24, skuat asuhan Ramon Diaz itu pun memperoleh peluang pertamanya melalui aksi Oscar Romero. Mendapatkan ruang tembak di luar kotak penalti, Romero berhasil melepaskan tendangan keras ke arah gawang Peru. Akan tetapi, bola tendangannya masih dapat diblok kiper Peru, Pedro Gallese. Babak pertama pun berakhir dengan skor kaca mata 0-0.

Memasuki babak kedua, tepatnya pada menit ke-48, para pendukung Peru akhirnya bersorak setelah Andre Carrillo sukses membobol gawang Paraguay. Gol itu tercipta seusai memanfaatkan kesalahan pemain belakang Paraguay yang kurang sempurna saat mengantisipasi bola sundulan Guerrero.

Tertinggal 1-0, Paraguay berinisiatif menyamakan kedudukan. Tercatat dua kali mereka mendapatkan peluang untuk menyamakan kedudukan melalui aksi Oscar Romero dan Edgar Benitez pada menit ke-66 dan menit ke-67. Namun, kedua peluang itu masih gagal menghasilkan gol.

Satu menit menjelang akhir laga, justru Guerrero yang mampu menggandakan keunggulan Peru seusai memaksimalkan umpan silang Joel Sanchez. Skor 2-0 untuk Peru pun tetap bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Hasil ini menjadikan Peru sebagai tim peraih tempat ketiga diperhelatan ajang Copa America 2015.

Messi Berpeluang Raih MVP Copa America 2015

Cutejapanese.org – Meski tak mencetak gol dalam laga Argentina kontra Paraguay, sepertinya hal tersebut tak membuat kebintangan Lionel Messi pudar. Kembali, ia dinobatkan sebagai man of the match pada laga tersebut. Ini merupakan kali ke-4 Messi meraih penghargaan itu, dari 5 pertandingan yang sudah dia jalani.

Messi tak mencetak gol saat Argentina membenamkan Paraguay 6-1 di semifinal Copa America 2015. Meski demikian, Messi merupakan kreator kemenangan Albiceleste. La pulga (julukan Messi) berhasil membuat 3 assist dalam laga yang digelar di Estadio Municipal de Concepcion, Rabu (1/7/2015) pagi WIB.

Berkat kontribusinya tersebut, Messi dinobatkan sebagai man of the match, melampaui Angel Di Maria yang 2 kali memasukan si kulit bundar ke gawang Paraguay. Ini merupakan status man of the match ke-4 Messi dari 5 laga yang dia jalani di Copa America 2015.

Lionel Messi terpilih sebagai man of the match pada laga perdana, di mana kala itu dia mencetak satu gol lewat titik putih dan Argentina hanya bermain imbang 2-2 dengan Paraguay. Kala itu Messi membuat kejutan sebab dia menolak titel man of the match. Messi berpeluang meraih MVP Copa America 2015, bila ia mampu bermain baik pada laga final apa lagi jika ia berhasil mengantarkan Argentina meraih gelar juara.

Libas Paraguay 6-1, Argentina ke Final

CONCEPCION, Cutejapanese.org – Argentina memastikan lolos ke babak final Copa America 2015 setelah mengalahkan Paraguay dengan skor telak 6-1 di babak semifinal yang digelar di Stadion Alcaldesa Ester Roa, Concepcion, Rabu (1/7/2015) dini hari WIB. Hasil itu membawa Tim Tango menghadapi tuan rumah Chile di partai final dan berpeluang mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun.

Argentina yang sebelumnya dikritik karena kurang produktif mencetak gol, benar-benar menjawab semua kritikan dengan hal yang luar biasa. Permainan berlangsung menarik, kedua tim melancarkan serangan silih berganti. Di awal pertandingan Argentina sempat melakukan sejumlah kesalahan sehingga membuat Paraguay nyaman melakukan ancaman. Sebaliknya, serangan Argentina yang dimotori Lionel Messi, Sergio Aguero dan Angel Di Maria selalu kandas oleh disiplinnya barisan pertahanan Paraguay.

Namun permainan keras yang diperagakan La Albirroja malah membuat Marcos Rojo mampu membawa Argentina unggul lebih dulu pada menit ke-15. Pelanggaran yang dilakukan Paraguay memberikan Argentina tendangan bebas. Messi yang menjadi eksekutor, berhasil mengirim umpan yang jatuh tepat ke kaki Rojo dan diteruskan menjadi gol. Papan skor pun berubah 1-0 untuk keunggulan Argentina.

Selang 12 Menit kemudian, Messi kembali jadi kreator ketangguhan Albiceleste. Umpan terukurnya kepada Javier Pastore berhasil diteruskan menjadi gol dan menambah keunggulan Argentina menjadi 2-0.

Dua menit jelang babak pertama berakhir, Paraguay mampu memperkecil keadaan setelah pemain mereka yang berdarah Argentina, Lucas Barrios menundukkan kiper Argentina, Sergio Romero dengan sepakan keras kaki kirinya. Skor 2-1 menutup babak pertama untuk keunggulan Argentina.

Memasuki paruh waktu kedua, Argentina langsung tampil menekan. Hasilnya, Enam menit selepas kick off babak kedua dimulai, mereka sudah berhasil menambah keunggulan. Di Maria mencetak dua gol di menit ke-47 dan ke-53 dan membawa timnya unggul jauh 4-1 atas Paraguay.

Tertinggal defisit tiga gol, Paraguay makin kesulitan mengembangkan permainan. Sejumlah tendangan spekulasi dilancarkan dari luar kotak penalti, namun tidak ada satu pun yang mengarah tepat ke gawang Argentina. Sebaliknya, Messi dkk makin leluasa mengobrak-abrik lini pertahanan Paraguay.

Messi yang seakan kehilangan ketajamannya bersama Argentina, kembali gagal mencetak gol dalam pertandingan kali ini, termasuk ketika telah berhadapan satu lawan satu dengan kiper Paraguay, Villar. Sebaliknya, dua gol tambahan Argentina disumbangkan Sergio Aguero pada menit ke-80 dan Gonzalo Higuain di menit ke-83. Skor 6-1 untuk kemenangan Argentina tak berubah hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir.

Hasil tersebut membuat kans Argentina untuk mengulang kenangan indah Copa America 1991 terbuka lebar. Kala itu mereka menjadi jawara ketika gelaran turnamen juga diselenggarakan di Chile. Kesempatan mengakhiri puasa gelar selama 22 tahun sudah dalam genggaman, dengan syarat bisa menundukkan tuan rumah di final yang akan digelar di Stadion Nacional, Santiago, sabtu waktu setempat atau minggu (5/7/2015) dini hari WIB mendatang.

Jorge Sampaoli : “Kertu Merah Peru, Bikin Kami Mandek”

SANTIAGO, Cutejapanese.org – Chile meraih kemenangan tipis 2-1 atas 10 pemain Peru pada semifinal Copa America 2015, Senin (29/6/2015). Kartu merah Carlos Zambrano pada menit ke-20 dianggap menjadi salah satu biang kekalahan Peru pada laga itu.

Akan tetapi, pendapat berbeda justru dikeluarkan Jorge Sampaoli. Pelatih Chile itu menilai kartu merah Zambrano justru menyulitkan timnya.

“Kartu merah itu lebih menyakitkan bagi kami dibandingkan Peru. Sebab, kami mengalami kemandekan (serangan),” ujar Sampaoli seusai pertandingan seperti dilansir La Tercera.

Sejak kartu merah Zambrano, Peru memang bermain lebih menunggu dan cenderung menumpuk pemain di area pertahanan. Hal ini sempat membuat serangan Chile mandek. Baru pada menit-menit akhir babak pertama, pasukan Sampaoli bisa memecah kebuntuan lewat gol Eduardo Vargas.

“Para pemain Peru sedang dalam performa terbaik. Mereka tak perlu takut menghadapi tim mana pun dari kawasan Amerika,” kata Sampaoli memuji.

Bagi Sampaoli, keberhasilan mengantarkan Chile ke final merupakan sebuah prestasi. “Melangkah ke final bagi seorang pelatih tim nasional adalah sebuah impian,” tutur dia.

“Melangkah ke final memang menjadi target kami sejak awal. Namun, kami ingin pesta ini terus berlanjut sampai akhir,” ucap pelatih asal Argentina itu.

Andai berhasil mengantarkan Chile meraih gelar di Copa America 2015, Sampaoli akan tercatat dalam sejarah sepak bola Chile. Sebab, hingga penyelenggaraan kali ini, belum sekali pun Chile menjadi juara Copa America.

Kalahkan Peru, Tuan Rumah Melaju ke Final

SANTIAGO, Cutejapanese.org — Chile berhak melaju ke final Copa America 2015 setelah meraih kemenangan 2-1 atas Peru pada laga semifinal yang diselenggarakan di Stadion Nasional Julio Martinez Pradanos, Senin malam atau Selasa (30/6/2015) pagi WIB.

Chile mendapat keuntungan, karena sejak menit ke-20 Peru harus sudah bermain dengan 10 orang pemain. Carlos Zambrano mendapatkan kartu merah langsung lantaran melanggar keras Charles Aranguiz. Kartu merah tersebut sempat mendapat protes keras dari para pemain Peru, namun wasit Jose Argote tetap kukuh pada keputusannya.

Meski unggul dalam jumlah pemain, Chile baru dapat memecah kebuntuan pada menit ke-42. Berawal dari umpan silang Alexis Sanchez, Aranguiz langsung menyambar bola, namun masih gagal membuahkan gol. Bola hasil sepakannya mengenai tiang jauh dan beruntung bagi Chile, bola memantul mengarah kepada Eduardo Vargas. Tak mau menyia-nyiakan peluang, Vargas yang berdiri bebas langsung melepaskan tendangan dan berhasil menaklukkan kiper Peru, Pedro Gallese. Papan skor pun berubah 1-0 untuk keunggulan Chile menutup babak pertama.

Usai jeda babak pertama, Chile terus menekan dan memegang kendali permainan. Akan tetapi, Pada menit ke-60, Peru berhasil memanfaatkan kegagalan barisan pertahanan Chile untuk menciptakan gol penyeimbang.

Bermula dari area pertahanan timnya, Jose Paulo Guerrero membangun serangan balik dengan mengumpan ke sisi kanan. Luis Advincula lantas berlari menyisir sisi kiri pertahanan Chile. Melihat Andre Carrillo di kotak penalti lawan, Advincula lalu melepaskan umpan silang. Malang bagi Chile, usaha Gary Medel memotong umpan tersebut justru mengarahkan bola ke gawang sendiri. Gol bunuh diri Medel membuat skor imbang 1-1.

Namun, euforia kemenangan para pemain dan pendukung Peru tak berlangsung lama. Empat menit setelah melakukan gol bunuh diri, Medel membayar lunas kesalahannya. Umpan dirinya kepada Vargas diselesaikan dengan tembakan keras dari luar kotak penalti yang bersarang di pojok kanan atas gawang Peru. Chile kembali unggul 2-1.

Defisit satu gol, Peru bermain lebih ofensif dengan memasukkan Claudio Pizarro dan Victor Yuton untuk menambah daya gedor mereka. Namun, usaha tersebut tak juga membuahkan hasil. Cile menang 2-1 dan melangkah ke final Copa America 2015.

Bagi Chile, keberhasilan melangkah ke final merupakan yang pertama sejak 1987. Khusus sebagai tuan rumah, keberhasilan kali ini mengulang catatan 1955. Sial bagi Chile, dalam dua final itu, mereka kalah dari Argentina dan Uruguay.

Pada laga final, Sabtu (4/7/2015), Chile bertemu pemenang antara Argentina dan Paraguay. Sementara itu, Peru akan menjalani perebutan tempat ketiga pada Jumat (3/7/2015).

Paraguay Kembali Singkirkan Brasil Lewat Adu Penalti

CONCEPCION, Cutejapanese.org — Brasil harus mengakhiri perjalanan di Copa America 2015, setelah kalah melalui drama adu penalti dari Paraguay pada pertandingan perempat final, Sabtu malam atau Minggu (28/6/2015) pagi WIB. Adu penalti harus dilakukan lantaran kedua tim bermain imbang 1-1 pada 90 menit waktu normal.

Brasil mampu menguasai jalannya pertandingan dan unggul terlebih dahulu berkat gol yang diciptakan Robinho saat laga baru berjalan 15 menit. Gol bermula dari aksi Dani Alves di sisi kiri pertahanan Paraguay. Bek yang memperkuat Barcelona tersebut dengan cepat melepaskan umpan ke tengah kotak penalti. Robinho yang tak mendapat kawalan dengan mudah memasukkan bola masuk ke gawang lawan. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama usai.

Memasuki babak kedua, kedua tim terus melancarkan serangan. Brasil tetep mendominasi jalannya pertandingan. Akan tetapi, pada menit ke-70 keunggulan tim Samba harus lenyap setelah Thiago Silva melakukan kesalahan fatal dengan melakukan handsball di area kotak penalti pertahanan timnya. Silva dinilai menyentuh bola dengan tangannya saat berebut bola di udara dengan Cruz. Derlis Gonzalez yang ditunjuk sebagai eksekutor berhasil menaklukkan kiper Brasil, Jefferson. Gol tersebut bertahan hingga waktu normal berakhir.

Karena CONMEBOL atau CSF (Confederación Sudamericana de Fútbol, Konfederasi Sepak bola Amerika Selatan) yang tak mengenal sistem perpanjangan waktu, laga pun harus ditentukan lewat adu penalti.

Duel adu penalti berjalan dramatis. Di kubu Brasil, Everton Ribeiro dan Douglas Costa gagal melaksanakan tugasnya mengeksekusi penalti. Alhasil, Brasil tersingkir setelah kalah adu penalti dengan skor 3-4.

Kekalahan Brasil kali ini seolah mengulang sejarah kegagalan langkah mereka pada Copa America 2011. Saat itu, mereka juga kalah adu penalti dari Paraguay.

Pada pertandingan semifinal selanjutnya, Paraguay akan menghadapi Argentina, Senin (30/6/2015).