Madrid Kembali Tersingkir di Fase Knock Out oleh Tim Italia

MADRID, Cutejapanese.org – Ternyata kutukan kalah di fase knock out oleh tim Italia belum mampu dipatahkan oleh El Real. Kekalahan Madrid dari Juventus di semifinal Liga Champions memperpanjang catatan buruk kala El Real kala berjumpa tim-tim Italia di fase knock out kompetisi Eropa.

Madrid yang butuh kemenangan usai kalah 1-2 di leg pertama pekan lalu, hanya mampu bermain imbang 1-1 di leg kedua semifinal Liga Champions yang dihelat di Santiago Bernabeu, Kamis (14/5) dinihari WIB.

Gol penalti Cristiano Ronaldo di menit ke-23 dibabak pertama, dibalas Alvaro Morata di menit ke-57 babak kedua. Skor tersebut cukup untuk menghentikan langkah Madrid melaju ke final secara beruntun usai kalah agregat 2-3.

Kekalahan Madrid dari Juve ini juga turut memperpanjang rekor tak pernah menang dalam 28 tahun terakhir dari tim-tim Italia di fase knock out kompetisi antarklub Eropa atau delapan laga fase gugur secara beruntun.

Terakhir kali Madrid bertemu tim Italia di fase gugur adalah di musim 2007/2008. Namun kalah 1-2 dan 1-2 dari AS Roma di babak 16 besar. Madrid juga pernah dipecundangi dari Juve saat berstatus juara bertahan Liga Champions pada saat semifinal musim 2002/2003.

Kali terakhir Madrid mendepak tim Italia dari fase knock out kompetisi Eropa adalah di musim 1987/1988. Kala itu Madrid mengalahkan Napoli 2-0 di leg pertama dan berimbang 1-1 di leg kedua dalam laga dengan Napoli di ajang Piala Champions.

Imbangi Madrid, Juve Melangkah Ke Final

MADRID, Cutejapanese.org – Real Madrid akhirnya memastikan diri gagal untuk mempertahankan gelar Liga Champions pada musim ini karena disingkirkan Juventus pada laga semifinal. Setelah takluk 1-2 pada leg pertama, El Real hanya mampu bermain imbang 1-1 pada semifinal leg kedua yang digelar di Stadion Santiago Bernabeu, Rabu malam atau Kamis (14/5/2015) dini hari WIB. Dengan keunggulan agregat 3-2, Juve memastikan lolos ke final melawan Barcelona di Olympiastadion, Berlin, pada 6 Juni 2015.

Madrid berusaha mengendalikan permainan sejak awal laga. El Real mau tak mau harus meraih kemenangan untuk memastikan tiket final.

Peluang pertama El Real datang dari kaki Karim Benzema pada menit keenam. Bomber asal Perancis tersebut berhasil melepaskan tendangan dari jarak dekat. Namun, tembakan Benzema masih melenceng dari gawang.

Meski begitu, Madrid tidak dibiarkan leluasa mengembangkan permainannya. Beberapa kali Si Nyonya Besar mengancam pertahanan tim tuan rumah melalui serangan balik yang cepat.

Salah satunya ketika Arturo Vidal melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti pada menit ke-14. Beruntung bagi Madrid, IKer Casillas berhasil menepis bola hasil tembakan Arturo Vidal.

Perlahan namun pasti, Madrid mulai mendominasi permainan. Pada menit ke-20, Benzema berhasil melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti lawan dan memberikan umpan. Sayang, tak ada pemain Madrid yang menyambut umpan tersebut.

Semenit kemudian, giliran Gareth Bale yang melepaskan ancaman melalui tembakan dari luar kotak penalti. Akan tetapi, Buffon melakukan penyelamatan gemilang dengan menepis bola.

Usaha keras Madrid akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-23 melalui gol penalti Ronaldo. Madrid mendapat hadiah penalti setelah terjadi pelanggaran yang dilakukan Giorgio Chiellini terhadap James Rodriguez di kotak terlarang. Ronaldo yang maju sebagai eksekutor berhasil menyarangkan bola ke tengah gawang.

Benzema nyaris memperbesar keunggulan Madrid melalui tandukannya pada menit ke-30. Namun lagi-lagi, Buffon masih sigap mengamankan gawangnya.

Buffon kembali membuat Benzema gigit jari pada menit ke-41. Kiper asal Italia tersebut mampu menepis tembakan jarak dekat yang dilepaskan Benzema. Skor 1-0 bertahan hingga babak pertama berakhir.

Tiket final yang sudah digenggam Madrid seakan-akan sirna, setelah mereka kebobolan pada menit ke-57. Casillas dipaksa memungut bola dari gawangnya sendiri, lantaran gagal membendung tembakan jarak dekat Morata. Sama seperti pertemuan pada leg pertama, kali ini Morata pun tidak merayakan golnya. Hal itu wajar karena Morata merupakan pemain hasil didikan El Real.

Setelah gol tersebut, Ancelotti berinisiatif menambah daya gedor El Real dengan memasukkan Javier Hernandez untuk menggantikan Benzema pada menit ke-67.

Belum sempat melepaskan ancaman baru, Ancelotti nyaris melihat gawang timnya kebobolan jika saja Casillas tak sigap menepis tembakan Claudio Marchisio pada menit ke-70.

Tujuh menit kemudian, giliran Paul Pogba yang melepaskan ancaman dari dalam kotak penalti. Namun, Casillas melakukan penyelamatan gemilang dengan menepis tembakan Pogba.

Setelah itu, Madrid tetap saja lebih banyak mengendalikan serangan. Namun, hingga wasit meniut peluit panjang, tak ada gol tambahan dari tim tuan rumah hingga laga usai. Skor akhir tak berubah 1-1. Dengan hasil ini, Madrid pun dipastikan tersingkir dari Liga Champions, karena kalah selisih gol 3-2 untuk Juventus.

Pada laga puncak yang akan dihelat di Berlin nanti, Juve sudah di tunggu tim Spanyol lainnya, Barcelona. Setelah mereka berhasil mematahkan perlawanan Bayern Muenchen sehari sebelumnya.

Juve Berharap, Kenangan Manis 2003 Akan Terulang

MADRID, Cutejapanese.org – Juventus akan bertandang ke Stadion Santiago Bernabeu untuk melakoni semifinal kedua Liga Champions melawan tuan rumah Real Madrid, Rabu malam atau Kamis (14/5/2015) dini hari WIB. Pada semifinal kedua hari ini, Real Madrid dituntut untuk membalas kekalahan 1-2 pada semifinal pertama.

Pada laga pertama di Turin pekan lalu (6/5/2015), Bianconeri berhasil mengalahkan Los Blancos. Alvaro Morata dan Carlos Tevez menjadi penentu kemenangan Juventus lewat gol yang mereka ciptakan. Sementara Real Madrid hanya mampu mencetak satu gol lewat Cristiano Ronaldo.

Untuk mewujudkan misi membalas kekalahan itu, El Real dikabarkan mendapatkan amunisi tambahan. Penyerang andalan Real Madrid yang absen pada leg pertama, Karim Benzema, diharapkan bisa tampil kembali. Benzema tentunya akan memimpin lini depan Real Madrid, bersama Ronaldo dan Gareth Bale.

Akan tetapi, bukan hanya Madrid yang mendapatkan kabar gembira. Juventus juga mendapatkan suntikan tenaga baru setelah gelandang muda mereka, Paul Pogba dinyatakan telah pulih dari cedera. Kehadiran pemain berusia 22 tahun itu tentunya menjadi motivasi tersendiri bagi Juventus.

“Kami sudah ada di sini sekarang, dan kami berharap mimpi mencapai final bisa menjadi kenyataan,” ujar bek tengah Juventus, Andrea Barzagli.

Barzagli tentu berharap keberhasilan Juventus melangkah ke final Liga Champions pada 2002-03, bisa berulang di musim ini. Namun, tentu saja dengan skenario yang berbeda.

Saat itu, Juventus juga bertemu dengan Madrid di semifinal. Pada pertemuan pertama, Madrid yang bertindak sebagai tuan rumah menang 2-1 berkat gol Ronaldo dan Roberto Carlos, dan hanya dibalas oleh Juventus melalui David Trezeguet.

Kemenangan 2-1 atas Juventus pada leg pertama, memberikan keuntungan bagi Madrid. Mereka lebih diunggulkan untuk lolos ke final. Apalagi, skuad Madrid yang saat itu dilatih oleh Vicente del Bosque, dihiasi oleh nama-nama beken, seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, Roberto Carlos, dan Ronaldo.

Akan tetapi, prediksi sebagian besar pengamat salah. Juventus yang diarsiteki Marcello Lippi mampu menang 3-1 atas Madrid.

Trezeguet, Alessandro Del Piero, dan Pavel Nedved menjadi pencetak gol bagi I Bianconeri. Sedangkan Madrid hanya mampu memperkecil kedudukan melalui Zinedine Zidane jelang akhir pertandingan. Agregat pun menjadi 4-3 untuk keunggulan Juventus. Akhirnya, Juventus berhak lolos ke final dan bertemu dengan wakil Italia lainnya, yaitu AC Milan.

Seperti halnya 12 tahun lalu, Madrid saat ini pun lebih diuntungkan untuk lolos. Namun, belajar dari kisah pahit masa lalu, para pemain Madrid tak boleh lengah meski bermain di markas sendiri. Sedangkan bagi Juventus, kenangan masa lalu itu bisa menjadi pelecut untuk bisa mengulanginya musim ini.

Pertemuan nanti akan menjadi sangat menentukan siapa yang berhak melaju ke Berlin, tempat digelarnya pertandingan final Liga Champions musim ini. Madrid atau Juventus sudah ditunggu oleh Barcelona yang lebih dahulu memastikan tempat di babak final setelah berhasil menyingkirkan Bayern Muenchen.

Pogba Bisa Menjadi Starter

MADRID, Cutejapanese.org — Allenatore Juventus, Massimiliano Allegri, menenyatakan bahwa Paul Pogba berpeluang tampil sebagai starter pada pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions melawan Real Madrid di Santiago Bernabeu, Rabu malam atau Kamis (14/5/2015).

Seperti diketahui, Paul Pogba telah kembali bermain saat Juventus berhadapan dengan Cagliari pada akhir pekan lalu. Gelandang muda asal Perancis tersebut mencetak satu gol selama 63 menit bermain. Pertandingan melawan Cagliari menjadi laga perdana Pogba setelah absen dua bulan karena mengalami cedera hamstring.

Laga “pemanasan” itu pun berjalan baik bagi Pogba. Allegri pun langsung berencana memasang pemain asal Perancis itu sebagai starter. “Pogba dalam keadaan baik. Dia punya kesempatan besar untuk tampil sejak menit pertama,” kata Allegri.

Juve sendiri berpeluang besar lolos ke final Liga Champions, menyusul keberhasilan mengalahkan Madrid dengan skor 2-1 pada pertemuan pertama. Namun, Allegri meminta anak asuhnya melupakan kemenangan tersebut. Pelatih asal Italia tersebut meminta timnya untuk tetap fokus meraih kemenangan pada laga nanti.

“Tidak ada gunanya berpikir bahwa kami hanya bertahan. Kami harus lebih menguasai permainan. Jika tidak, Madrid akan mencetak gol. Kami hanya tinggal 95 menit lagi menuju Berlin (final Liga Champions). Saya tidak melihat alasan kami untuk tak percaya diri bahwa tim ini bisa ke sana,” ujar Allegri.

Barca Layak Lolos, Tapi Bayern Tersingkir Dengan Kepala Tegak

MUENCHEN – Bayern Muenchen gagal membalikkan keadaan atas Barcelona untuk lolos ke final Liga Champions. Namun para penggawa Bayern dinilai sudah memberikan segalanya di atas lapangan.

Bayern menghadapi tugas berat di leg kedua semifinal Liga Champions. Die Roten harus mengejar defisit tiga gol dari kekalahan 0-3 di Camp Nou.

Dalam pertandingan leg kedua di Allianz Arena, Rabu (13/5/2015) dinihari WIB, Bayern mengawali laga dengan baik setelah mampu unggul cepat di menit ketujuh lewat gol Mehdi Benatia. Tapi Bayern kemudian justru tertinggal setelah Neymar mencetak dua gol di menit ke-15 dan 29.

Memasuki babak kedua, Bayern yang mengendalikan permainan bisa menyamakan kedudukan melalui Robert Lewandowski. Thomas Mueller kemudian membawa Bayern berbalik unggul di menit ke-74.

Namun di sisa waktu pertandingan, Bayern tak mampu mencetak tiga gol tambahan untuk unggul agregat atas Barca. Meski menang 3-2, Bayern tetap gagal lolos ke final karena kalah 3-5 secara agregat.

CEO Bayern, Karl-Heinz Rummenigge, mengakui kalau Barca memang pantas lolos ke final. Namun Bayern disebutnya sudah menunjukkan perjuangan maksimal untuk membalikkan keadaan.

“Saya pikir kami tampil bagus sebagai tim. Para pemain menujukkan perjuangan yang hebat dan mencetak tiga gol, tapi sayangnya juga kebobolan dua gol,” ujar Rummenigge seperti dikutip situs resmi klub.

“Melihat 180 menit secara keseluruhan, Barcelona layak lolos, tapi kami tersingkir dengan kepala tegak,” lanjutnya.

“Kami tidak bisa lolos ke final di Berlin melawan mungkin tim terbaik di dunia saat ini. Tapi kami sampai semifinal, dan untuk keempat kalinya secara beruntun, jadi segalanya baik-baik saja,” katanya

Catatan Unik Barca Melaju Ke Final

MUENCHEN, Cutejapanese.org – Barcelona memastikan ke final Liga Champions musim ini setelah menyisihkan juara Jerman, Bayern Muenchen, di semifinal. Barcelona lolos ke partai puncak dengan agregat 5-3 meski kalah dari Bayern pada semifinal kedua, Selasa (12/5/2015).

Keberhasilan menyisihkan Bayern memperpanjang catatan apik dan unik Barcelona di fase knock-out Liga Champions musim ini. Dalam perjalanan ke final, El Barca terlebih dulu menyisihkan tim berstatus juara musim 2013-14 dari tiga liga elite Eropa, Premier League, Ligue 1, dan Bundesliga.

Pada babak 16-besar, Barcelona menyisihkan juara Inggris, Manchester City, dengan agregat 3-1. Penguasa Ligue 1, Paris Saint-Germain, menjadi korban berikutnya Barcelona di perempat final. Terakhir, Bayern sebagai juara Bundesliga gagal menghentikan pasukan Luis Enrique di semifinal.

Secara keseluruhan, Barcelona mengalahkan lima juara untuk melangkah ke final. Pada fase grup, mereka bertemu dengan PSG, Ajax Amsterdam (juara Belanda), dan APOEL Nicosia (juara Siprus). Dari tiga tim itu, hanya PSG yang bisa memperoleh tiga poin dari Barcelona. Sementara Ajax dan APOEL, selalu kalah dalam dua pertemuan melawan Barcelona.

Kekalahan dari PSG pada fase grup dan dari Bayern pada semifinal kedua menjadi noktah El Barca musim ini. Pada 10 laga lainnya, Barcelona selalu bisa mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Akan menjadi duel yang menarik andai Barcelona bersua Juventus pada laga puncak. Itu berarti, Barcelona punya kesempatan untuk meneruskan penaklukkannya atas juara Serie-A.

Bayern Gagal Mengejutkan Dunia

MUENCHEN, Cutejapanese.org – Kapten Bayern, Philipp Lahm, mengungkapkan timnya percaya kepada keajaiban dan akan mengejutkan dunia saat menjamu Barcelona, pada pertandingan kedua semifinal Liga Champions, di Allianz Arena, Selasa malam atau Rabu (13/5/2015) dini hari WIB. Namun, Lahm mengakui timnya gagal mewujudkan hal tersebut meskipun meraih kemenangan 3-2.

Demi meraih tiket final, Bayern memang butuh keajaiban setelah kalah telak 0-3 pada pertemuan pertama. Medhi Benatia sempat menumbuhkan asa Bayern melalui gol yang diciptakannya pada menit ketujuh. Namun, pekerjaan Bayern semakin berat setelah Neymar mencetak dua gol pada menit ke-15 dan pada menit ke-29.

Selepas jeda turun minum babak pertama, Bayern berbalik unggul 3-2 berkat gol Robert Lewandowski (59) dan Thomas Mueller (74). Sayang, kemenangan ini sia-sia karena Bayern kalah agregat 3-5 dari Barcelona.

“Suporter benar-benar hebat hari ini. Kami yakin dengan keajaiban tetapi kami tidak bisa mewujudkannya. Mustahil menghentikan pemain mereka selama 90 menit. Kami tidak kalah hari ini, tetapi kalah pada pertemuan pertama,” kata Lahm.

Sementara itu, Mueller mengaku yakin timnya bisa menang lebih besar lagi jika timnya tidak melakukan kesalahan.
“Kami bermain luar biasa pada babak pertama tetapi kami membuat dua kesalahan di lini belakang dan telah membuang banyak peluang. Itu sangat menjengkelkan,” ujar Mueller.

Setelah Kalah, Pep Dukung Barca Menangi Trofi Champions

MUENCHEN, Cutejapanese.org – Pep Guardiola mengucapkan selamat atas keberhasilan Barcelona lolos ke final Liga Champions. Pelatih berkepala pelontos itu pun berharap eks tim asuhannya tersebut dapat memenangi partai puncak di Berlin awal Juni nanti.

Pep dan Bayern gagal membalikkan ketertinggalan 0-3 dari Barca saat menjadi tuan rumah di leg kedua yang dihelat di Allianz Arena, Rabu (13/5) dinihari WIB. Die Roten hanya menang 3-2 ketika pertandingan berakhir dan harus mengakui keunggulan agregat 3-5 milik Barca.

Dengan hasil ini, untuk dua musim secara beruntun selama ditangani Pep, Bayern kembali disingkirkan tim Spanyol di babak semifinal. Setelah musim lalu takluk agregat 0-5 dari Real Madrid.

Ketika Barca yang notabene adalah eks tim asuhannya berhasil ke final dengan menyingkirkan Bayern, Pep pun memberi selamat seraya berharap Barca mampu meraih trofi Liga Champions kelimanya di Olympiastadion Berlin.

“Saya ingin memuji Barcelona setinggi-tingginya. Saya harap mereka bisa meraih trofi Liga Champions kelimanya di Berlin,” ujar Pep di Reuters.

Bersama Pep, Barca dua kali menjadi juara Liga Champions yakni di musim 2009 dan 2011. Lawan Blaugrana di final baru akan diketahui Kamis dinihari WIB nanti antara Real Madrid atau Juventus.

Meski Menang, Bayern Gagal Ke Final

MUENCHEN, Cutejapanese.org – Bayern akhirnya berhasil mengalahkan Barcelona, 3-2, pada pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions, di Allianz Arena, Selasa malam atau Rabu (13/5/2015) dini hari WIB. Meski menang, Bayern tetap tersingkir karena kalah agregat 3-5 dari Barcelona.

Bayern butuh kemenangan besar untuk dapat lolos ke partai puncak. Pasalnya, Bayern menelan kekalahan 0-3 dari Barcelona saat pertandingan pertama di Stadion Camp Nou, Barcelona, enam hari lalu.

Upaya Bayern membalas kekalahan dengan mencetak gol cepat berhasil dilakukan. Pertandingan baru berjalan tujuh menit, Bayern sudah unggul 1-0 atas Barcelona. Umpan sepak pojok Xabi Alonso disambut sundulan Medhi Benatia yang sukses membobol gawang Marc-Andre ter Stegen.

Gol tersebut meningkatkan semangat para pemain Bayern untuk mencari gol berikutnya. Lini tengah Bayern mencoba mendominasi permainan dengan terus memberikan tekanan kepada Barcelona.

Akan tetapi, Barcelona ternyata berhasil keluar dari tekanan. Dari sebuah serangan balik, umpan cerdik Lionel Messi mengarah kepada Luis Suarez yang lolos dari kawalan. Suarez tinggal berhadapan dengan kiper Manuel Neuer. Namun, Suarez justru mengumpan Neymar yang berdiri bebas di depan mulut gawang Bayern. Tanpa kesulitan, Neymar berhasil menggetarkan jala tuan rumah.

Tendangan Neymar tersebut membuat Bayern tersudut. Dengan skor 1-1, berarti agregat kini menjadi 4-1 untuk keunggulan Barcelona. Bayern pun butuh empat gol tambahan dan tanpa kebobolan untuk lolos dari lubang jarum.

Tak lama berselang atau tepatnya pada menit ke-29, trio “MSN” (Messi, Suarez, dan Neymar) kembali menjadi momok menakutkan bagi lini belakang Bayern. Kolaborasi ketiganya sukses menghadirkan gol kedua Barcelona pada laga tersebut.

Diawali umpan sundulan Messi, Suarez kembali bebas sendirian menggiring bola di daerah pertahanan Bayern. Hampir seperti gol pertama, Suarez kemudian memberikan umpan kepada Neymar. Umpan itu dikontrol Neymar menggunakan dada dan lantas langsung melepaskan tembakan mendatar ke tiang dekat. Neuer gagal mengantisipasi sepakan Neymar yang berujung gol.

Barcelona kini unggul 2-1 atas Bayern pada babak pertama. Agregat pun menjauh 5-1 untuk Barcelona. Hingga paruh pertama berakhir, Barcelona seakan mendorong Bayern ke tepi jurang Liga Champions.

Memasuki babak kedua, pelatih Barcelona, Luis Enrique, melakukan perubahan dengan memainkan Pedro Rodriguez untuk mengganti Suarez. Enrique tampak sudah yakin dengan keunggulan timnya dan ingin menyimpan tenaga Suarez untuk kompetisi domestik.

Sementara itu, Bayern tetap berusaha keras berjuang meski harus mencetak lima gol tambahan. Itu pun dengan syarat Barcelona berhenti mencetak gol ke gawang tuan rumah pada babak kedua.

Bayern sukses menyamakan kedudukan pada menit ke-59. Aksi Robert Lewandowski mengecoh Javier Mascherano dilanjutkan tendangan terukur yang bersarang ke pojok gawang Barcelona. Skor pun menjadi 2-2.

Demi menambah daya gedor, Josep Guardiola menarik keluar Philipp Lahm yang diganti Sebastian Rode. Di kubu Barcelona, Enrique mencoba bermain lebih bertahan dengan memasukkan Jeremy Mathieu menggantikan Ivan Rakitic.

Bayern justru mampu menambah gol pada menit ke-74. Di daerah kotak penalti Barcelona, Schweinsteiger memberikan umpan pendek yang diselesaikan dengan sempurna oleh Thomas Mueller. Bayern berbalik unggul 3-2 atas Barcelona. Namun, Barcelona tetap unggul agregat 5-3 atas Bayern.

Tiga gol tambahan yang dibutuhkan Bayern gagal tercipta meski Guardiola menurunkan gelandang serang Mario Goetze dan Javi Martinez pada menit ke-87. Bayern pun tersingkir meski menang atas Barcelona.

Barcelona memastikan satu tiket ke final Liga Champions yang akan berlangsung di Berlin, 6 Juni mendatang. Barcelona akan menghadapi Real Madrid atau Juventus yang baru akan bertanding pada Rabu (13/5/2015). Pada semifinal pertama, Juventus untuk sementara unggul 2-1 atas Real Madrid.

Ancelotti-Jamez Berharap Publik Bernabeu Tidak Ejek Casillas

MADRID, Cutejapanese.org – Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, dan gelandang James Rodriguez meminta suporter di Santiago Bernabeu tidak mengejek Kiper sekaligus Kapten Iker Casillas saat melawan Juventus pada semifinal kedua Liga Champions, Rabu malam atau (14/5/2015) dini hari. Keduanya meminta suporter dan pemain bersatu demi target menembus final di Berlin, 6 Juni mendatang tercapai.

Seperti diketahui, Casillas memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan suporter Madrid dalam 12 bulan terakhir. Performa Casillas yang naik turun menjadi penyebabnya. Alhasil, setiap Madrid tampil di Bernabeu, suporter kerap menyiuli dan mengejek Casillas. Terbaru adalah ketika Madrid ditahan imbang 2-2 oleh Valencia, akhir pekan lalu di Santiago Bernabeu.

Ancelotti tak mau hal tersebut berulang kala menjamu Juventus. “Tujuan kami mencapai final Liga Champions dan sudah sangat dekat. Besok, kami ingin menciptaan sejarah. Publik Bernabeu dan pemain harus menyatu,” ungkap Ancelotti.

“Ejekan terhadap satu pemain akan mempengaruhi keseluruhan. Casillas juga sudah mengulangi berkali-kali keinginannya untuk bertahan di sini. Ia mendapatkan kepercayaan dari semua, termasuk pelatih, rekan-rekan setim, dan klub. Meski disiuli, Casillas, menurut saya, akan termotivasi,” imbuhnya.

Sementara itu, James Rodriguez meminta suporter untuk menjadi pemain ke-12 di Bernabeu nanti, bukan menyoroti kinerja Casillas seorang.

“Jika berada di lapangan, Anda tidak ingin mendengar ejekan karena ingin sangat fokus. Andai mengejek satu pemain, Anda mengejek seluruh anggota tim,” ujar dia.

Dalam laga nanti, Madrid butuh kemenangan dengan skor 1-0 atau selisih dua gol untuk meraih tiket ke final. Kesuksesan menembus partai puncak bakal jadi kali kedua secara beruntun untuk tim ibu kota Spanyol ini.