Arsip Tag: pssi

Bendahara PSSI Dicecar 27 Pertanyaan Terkait Kasus Pengaturan Skor

Bendahara PSSI Berlinton Siahaan sudah selesai diperiksa tim Satgas Anti Mafia Bola Polri di Polda Metro Jaya. Diperiksa hampir 10 jam, Berlinton dicecar 27 pertanyaan.

“Pertanyaanya nggak banyak hampir 20 pertanyaan, 27 lah,” kata Berlinton kepada wartawan di kantor Direktorat Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, Senin (14/1/2019).

“7 itu pertanyaan siapa nama. Tapi yang perlu saya tegaskan, saya sebagai Bendahara Umum PSSI, PSSI membantu bapak kepolisian menuntaskan masalah ini,” sambungnya.

Ia menyebut dirinya dan PSSI siap membantu Satgas Anti Mafia Bola untuk menuntaskan kasus ini. Dalam sesi pemeriksaan dirinya hari ini, ia menyebut ia dicecar sekitar 20 pertanyaan terkait tugas-tugasnya.

“Pertanyaan tadi khususnya di PSSI bendahara keuangan, cara pengeluaran uang. Saya jelaskan dan fungsi saya sebagai bendahara mengelola, saya jawab dengan tegas dan organisasi seperti apa di keuangan, saya jelaskan dan menyangkut di hal lain apa yang bisa saya jawab saya tegaskan disitu,” ungkapnya.

Polisi disebutnya juga sempat meminta data-data keuangan di PSSI. Berlinton menyebut siap memberikan data-data yang dibutuhkan polisi.

“Ada data dan permintaan informasi akan kami serahkan semuanya. Jadi tadi sudah jelas bahwa kedatangan kami mengklarifikasi karena Minggu lalu saya nggak bisa hadir,” kata Berlinton.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut Berlinton sudah diperiksa sejak pukul 11.30 WIB. Berlinton diperiksa terkait laporan manajer Pesibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani terkait kasus dugaan pengaturan skor.

“(Berlinton) datang sebagai saksi,” kata Argo. Dalam kasus ini, polisi sudah menetapkan lima tersangka, yakni anggota komisi eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng, mantan anggota Komisi Wasit Priyanto, Anik Yuni Artika Sari, anggota komisi disiplin (Komdis) PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih, dan wasit Nurul Safarid. Malam ini polisi juga sudah menambah 5 tersangka baru namun polisi belum menjabarkan identitas mereka.

Para tersangka dijerat dengan dugaan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan dan/atau tindak pidana suap dan/atau tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau UU No 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan/atau Pasal 3, 4, 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

Persekabpas Dicueki PSSI Saat Kirim Nota Protes di Laga Vs Persibara

Persekabpas Pasuruan pernah mengirimkan nota protes usai dikalahkan Persibara Banjarnegara di Liga 3 2018, namun tak direspons PSSI. Kini, wasit ditangkap.

Polisi menangkap wasit di pertandingan Persibara dengan Persekabpas di Garut, Nurul Safarid, Jawa Barat pada Senin (9/1/2019). Dia diduga menerima uang Rp 45 juta untuk memenangkan Persibara. Laga berakhir 2-0 untuk kemenangan Persibara.

Menurut manajer Persekabpas, Suryono Pane, laga itu merupakan pertandingan leg kedua Liga 3 zona Jawa. pertandingan bergulir pada Oktober 2018.

Usai kekalahan itu, Persekabpas melayangkan nota protes kepada PSSI. Tapi, tak direspons. “Kami lega akhirnya Persekabpas mendapat keadilan. Terima kasih pada Polri karena telah membentuknya Satgas ini,” kata Suryono kepada detikSport, Selasa (8/1).

“Nah, begitu Polri membentuk satgas ini, kami melaporkan lagi ke Komdis dan ke Satgas Anti Mafia Bola. Alhamdulillah kasus ini terkuak,” dia menambahkan.

Pertandingan di Banjarnegara pada Oktober 2018 tersebut merupakan pertandingan hidup mati untuk menentukan tim mana yang lolos ke zona nasional Liga 3. Persekabpas terhenti, namun Persibara melenggang.

“Kami berharap dengan terkuaknya mafia pertandingan ini, sepakbola kita bisa berbeda dan jadi lebih baik,” Suryono menambahkan.

Petinggi PSSI IB dan H Dilaporkan kepada Satgas Anti Mafia Bola

Mantan manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fatah, melaporkan petinggi PSSI berinisial IB kepada Satgas Anti Mafia Bola. Imron diminta mengirimkan sejumlah uang oleh IB.

Transaksi itu terjadi pada babak delapan besar Piala Soeratin pada November 2009. Bangkalan menjadi tuan rumah ajang itu. Tapi, IB disebut mengancam untuk menarik keputusan dan memindahkan tuan rumah ke Bandung jika Imron tak mengirimkan sejumlah uang.

Imron bilang komunikasi dilakukan lewat telepon. Dalam percakapan via telepon itu, Imron diminta menyetorkan Rp 140 juta agar Bangkalan tetap menjadi tuan rumah. Saat itu, IB menjabat sebagai Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI).

“Waktu delapan besar saya mau dibatalkan (sebagai tuan rumah), mau ‘dibuang’ (dipindah) ke Persib,” kata Imron di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

“Jadi saya ditelepon Pak IB ‘ini (tuan rumah) harus pindah ke Persib’, kemudian saya diminta telepon ke H,” ujar dia.

Imron pun kemudian menghubungi H. Menurut Imron, H saat itu menyarankan kepada Imron untuk segera mengirim kekurangan uang kepada IB.

“Karena saya sebelumnya sudah kirim, sisanya Rp 25 juta itu dikirim tanggal 9 November 2011,” katanya.

Belakangan, Imron baru mengetahui bahwa untuk menjadi tuan rumah itu tidak perlu membayar. Imron pun merasa tertipu, sehingga ia melaporkan IB ke tim Satgas Anti Mafia Bola. Laporan Imron diterima Satgas Anti Mafia Bola pada Senin (7/1) malam.

Imron berharap Satgas Anti Mafia Bola bisa memperbaiki persepakbolaan di Indonesia. Dia juga menyimpan ekspektasi agar mafia pengatur ‘permainan’ ditangkap.

“Ya alasannya gini, bola ini sekarang ini sudah (ada) Satgas Anti Mafia Bola. Ini kan harapan terakhir buat kita. Sudah nggak ada harapan lagi memperbaiki bola,” tutur Imron.

Dua Anggotanya Diciduk Polisi, Apa Langkah PSSI?

Satuan Tugas Anti Mafia Bola menciduk dua anggota PSSI terkait kasus pengaturan skor yakni Johar Lin Eng dan Dwi Irianto. Apa langkah PSSI selanjutnya?

Satgas Anti Mafia Bola berturut-turut menciduk dua anggota PSSI terkait kasus pengaturan skor. Pertama Johar Lin Eng pada Kamis (27/12/2018) dan kemudian Dwi Irianto (28/12).

Johar merupakan Anggota Executive PSSI, yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Tengah. Adapun Dwi Irianto adalah ketua Asprov Yogyakarta yang juga anggota Komisi Disiplin PSSI.

PSSI menyebut proses hukuman untuk Johar dan Dwi akan tetap berjalan di tubuh PSSI. Sekjen PSSI Ratu Tisha mengatakan hukuman keduanya tetap akan diproses di Komdis.

“Proses di Komdis pastinya akan terus berlanjut, hal itu sudah ada proses dan tupoksi namanya badan yudisial komdis. Di situ dulu jadi penegakan regulasi dan seluruh halnya itu ada di komdis. Itu yang harus kita hargai bersama,” kata Tisha di Kantor Bareskrim, Gedung Ombdudsman, Jl. HR Rasuna Said Kav. C-19 Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (28/12).

“Kedepannya, pembenahan organisasi ada di awal Januari sebelum kongres kita akan ada rapat dengan polisi dan fifa untuk bahas lebih lanjut apa tupoksi yang kompare,” sambungnya.

Tisha melanjutkan, kekosongan Exco belum akan dibahas PSSI lebih lanjut. Pasalnya, kekosongan belum mencapai 50 persen dari total anggota.

“Kalau kekosongan Exco, sesuai statuta, apabila yang tidak ada kurang dari 50 persen itu tidak ada aturan untuk dibahas. Kalau ada sampai 50 persen, baru itu harus dilakukan pemilihan untuk Exco. Kalau untuk badan yudisial, nanti di dalam kongres akan disahkan badan yudisial sesuai badan seleksi, dan itu kewenangannya ada di kongres,” tambahnya.

Exco PSSI, Apa Sih Kontribusimu Selama Ini?

Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto menyentil anggota Executive Committee PSSI. Gatot bertanya, apa sih kontribusi Exco selama ini?

Hal itu dilontarkan Gatot dalam debat di talkshow Mata Najwa di Trans 7, yang sedang menayangkan episode PSSI Bisa Apa, Rabu (28/11/2018). Dalam kesempatan itu, Gatot bertanya kepada dua anggota Exco PSSI yang hadir, Gusti Randa dan Refrizal.

Gatot mempertanyakan kinerja Exco, di tengah posisi Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang sedang tersudut atas bobroknya sepakbola nasional.

“Bapak-bapak ini wajib membantu Pak Edy, sekarang saya tanya apa sih kontribusi, pemikiran yang nendang, yang signifikan, yang telah diberikan kepada Pak Edy dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini, coba berikan kepada publik. Apa? Apa kontribusi kepada Pak Edy, kami sayang kepada Pak Edy meskipun kritis, kalau kalian apa?” tanya Gatot.

Refrizal menjawabnya. Dengan berbelit-belit, ia mengaku selalu berkoordinasi dengan Edy saat sang ketua memilih maju menjadi Gubernur Sumut.

“Saya sudah sampaikan, sejak Pak Edy dilantik, mungkin dia sedang konsolidasi. Waktu izin sama kami di Exco, dia minta izin. Waktu dia mencalonkan gubernur Sumatera Utara, dia juga izin,” jawab Refrizal.

Merasa kurang mendapat jawaban yang diinginkan, Gatot kemudian merinci pertanyaannya lebih spesifik lagi. Ia bertanya soal kontribusi Exco untuk Timnas Indonesia.

“Sekarang to the point, sekarang soal kualitas timnas, apa yang pernah dishare pemikiran yang konstruktif terhadap Pak Edy? Misal Pak Edy harus bla bla bla..,” tanya Gatot.

Refrizal lagi-lagi menjawabnya. Ia mengaku sudah mengingatkan agar Edy bisa membenahi soal kualitas liga sepakbola agar tak mengganggu kualitas Timnas Indonesia.

“Ya semua kami berikan masukan. Misal soal Liga harus betul. Mulainya harus betul, urusannya harus betul, jangan terlambat start untuk (liga) yang akan datang, kalau gak ini yang akan kami evaluasi,” jawab Refrizal.

Exco menegaskan, kinerja PSSI akan dievaluasi pada saat kongres tahunan PSSI. “Ya di Kongres Tahunan. Saya pikir itu kedaulatan tertinggi dari para voters,” timpal Gusti Randa.

PSSI Gelar Kongres di Januari

PSSI menjadwalkan kongres pada 20 Januari 2019 mendatang. Sejumlah hal akan dibahas, termasuk pergantian ketua umum?

PSSI menggelar Rapat Komite Eksekutif di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (25/11/2018) kemarin. Selain membicarakan soal evaluasi timnas Indonesia, dalam pertemuan itu juga dibahas tentang kongres.

Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono menjelaskan bahwa pertemuan Exco menyepakati kongres untuk digelar pada 20 Januari. Surat undangan kepada anggota akan mulai disebar satu bulan sebelum kongres atau bulan depan.

“PSSI membuat edaran tanggal kongres, tanggal 20 Januari dan sudah diratifikasi Komite Eksekutif. Empat pekan jelang kongres, PSSI terbitkan undangan sekaligus tempat definitif,” ujar Joko saat ditemui di Hotel Sultan.

“Menjelang itu, timeline menuju kongres, salah satunya di minggu kedua Desember akan ada rapat koordinasi, yang diperluas, yang biasanya di level Komite Eksekutif dan pengurus, ditambah 34 Asprov (Asosiasi Provinsi),” sambungnya.

Joko menyebut ada beberapa agenda yang akan menjadi pembahasan di dalam Kongres tersebut, termasuk program PSSI di tahun depan. Tapi Joko tak menyinggung soal kemungkinan pergantian Edy Rahmayadi selaku ketua umum.

“Kepentingannya agar program tahun depan betul-betul komprehensif, bisa mengakomodir sekaligus mendetailkan semua gagasan PSSI dan sukses implementasi di level Asprov. Itu agendanya dan pembicaraan tentang kongres,” dia menambahkan.

Kepengurusan PSSI kembali digoyang menyusul hasil buruk timnas di Piala AFF 2018. Belakangan juga mencuat isu match fixing baik di Liga 1 maupun Liga 2.

Edy Rahmayadi pun dituntut untuk mundur dari jabatannya, terlebih saat ini dia rangkap jabatan usai terpilih sebagai gubernur Sumatera Utara.

PSIS vs Persib Berbau Match Fixing, Kemenpora: Serahkan ke PSSI

Laga antara PSIS Semarang kontra Persib Bandung yang berakhir 0-3 memunculkan dugaan pengaturan skor. Kemenpora berharap PSSI menyelidiki kebenarannya.

Hal itu disampaikan Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto, setelah mendapat pertanyaan dari pewarta terkait indikasi tersebut. ‘Maung Bandung’ menelan kekalahan 0-3 dari PSIS dalam pertandingan Liga 1 di Stadion Madya Magelang pada Minggu (18/11/2018).

Tiga gol PSIS dilesakkan oleh Bruno Silva, Hari Nur Yulianto, dan Ibrahim Posle Conteh. Kekalahan telak Persib ini memunculkan tanda tanya.

Sebab menuju ke pertandingan tersebut, PSIS merupakan tim papan bawah, menghuni posisi 12. Sementara Persib datang sebagai penghuni posisi tiga klasemen. Apalagi sebelumnya sudah ada rumor pengaturan skor saat Persib kalah 0-1 dari PSMS.

Usai pertandingan melawan PSIS, pelatih Persib Roberto Carlos Mario Gomez menuding ada sejumlah orang yang ingin menghancurkan timnya, menyebut para pemain tak cuma harus menghadapi pemain tim lawan. Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto pun menyayangkan munculnya dugaan kecurangan semacam ini.

“Kalau benar ada dugaan pengaturan skor ya kami sayangkan. Bukan meremehkan PSIS, mereka tim bagus. Tapi kenapa Persib bisa kalah telak? Karena setelah kena skorsing [usai kejadian melawan Persija di Bandung], Persib tidak pernah mengalami kekalahan telak,” kata Gatot di ruang kerjanya di Kantor Kemenpora, Senin (19/11/2018).

“Semoga hal itu tidak terjadi. Kalau itu benar terjadi itu tugas PSSI untuk investigasi. Kalau pemerintah masih wait and see. Cuma yang menjadi masalah adalah di aparat. Mereka harus proaktif. Yang menjadi pertanyaan saya darimana publik mengetahui ada potensi itu. Karena takutnya jika tidak ada pengaturan skor, hanya dugaan-dugaan saja jadinya hoax. Kasihan dua klub tersebut. Harus dipastikan dulu, minimal ada data premier, minimal ada saksi,” Gatot menjelaskan.

Pengaturan skor pernah terjadi di persepakbolaan Indonesia. Saat itu melibatkan PSIS Semarang dan PSS Sleman dan berujung pada pembekuan PSSI oleh FIFA.

“Ya kami mohon bantuan aparat. Kalau di KUHP memang tidak menyentuh pengaturan skor. Tapi ada di pasal menyebut bahwa yang mengakibatkan sebuah pertandingan tidak berjalan sportif itu menjadi kata lain dari pengaturan skor. Saya juga harap PSSI bisa melihat lagi videonya. Kalau pun enggak, PSSI harus clear kan. Jangan sampai itu menjadi hoax di tahun politik ini dan bisa digoreng,” dia menagaskan.

Selepas insiden di laga lawan Persija yang berujung skors, Persib menjalani delapan pertandingan dengan hanya sekali menang. ‘Pangeran Biru’ meraih dua hasil imbang dan menelan lima kekalahan, dengan yang telak adalah melawan Persebaya (1-4) dan PSIS (0-3).

Saat ini Persib tertahan di posisi tiga dengan 49 poin dari 31 pertandingan, tertinggal lima poin dari PSM Makassar di puncak dan satu poin dari Persija Jakarta (30 pertandingan). Sementara PSIS naik ke posisi 10 dengan 42 poin.

PSSI Akan Lunasi Utang kepada La Nyalla

PSSI diwajibkan melunasi utang kepada mantan Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti. PSSI menilainya sebagai sebuah kewajaran dan akan segera melunasi.

PSSI memiliki utang kepada La Nyalla sebesar Rp 13,9 miliar. Utang itu dimiliki PSSI sejak Agustus 2017. Dari pernyataan sebelumnya, disebutkan PSSI memiliki utang berupa kepada La Nyalla berupa pembiayaan lliga, timnas, serta gaji dan operasional PSSI.

Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, mengatakan akan melunasi utang itu. Dia akan mengajak bicara Nyalla lebih dulu.

“Ya biasa saja, utang piutang biasa. Kalau diputuskan buat bayar, ya diselesaikan. Itu nanti PSSI dan Pak Nyala yang diskusi,” kata Joko Driyono di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Kamis (1/11/2018) petang WIB.

Majelis hakim PN Jakarta Selatan sebelumnya memutuskan perkara itu pada Rabu (31/10/2018). Di hasil putusan tersebut, Ketua Majelis Hakim, Indirawati, dengan anggota Martin Ponto dan Akhmad Jaini, menyatakan telah menolak eksepsi tergugat untuk seluruhnya dan menolak permohonan gugatan provisi penggugat.

Sementara, dalam amar putusan, disebutkan, pertama, mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian. Kedua, menyatakan tergugat (PSSI, red) wanprestasi. Ketiga, menghukum tergugat untuk membayar utang kepada penggugat senilai utang yang tercatat, dan keempat menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara.

Selain utang kepada La Nyalla, PSSI juga belum melunasi menyisakan pembayaran hak siar Tsunami Cup 2017 sebesar Rp 1,5 miliar.

Tak Koordinasi Jual Tiket, PSSI Akan Ditegur Pengelola Bellezza

Penjualan tiket Timnas U-19 di Belleza Shopping Arcade, Jakarta Selatan tak melibatkan pengelola gedung. PSSI pun bakal ditegur.

Penjualan tiket Timnas U-19 dengan Jepang di perempatfinal Piala Asia 2018 secara offline di Bellezza Shopping Arcade seharusnya dibuka Sabtu (27/10) mulai pukul 09.00 WIB. Tapi, PSSI membatalkan dengan mengumumkan pukul 10.02 WIB.

PSSI beralasan penjualan tiket secara offline di laga sebelumnya tak direspons positif oleh suporter. Meereka pun mengalihkan penjualan seluruh tiket secara onlime.

Tapi rupanya, PSSI tak pernah berkomunikasi dengan pengelola Bellezza Shopping Arcade untuk menjual tiket di gedung tersebut.

Pengelola gedung, Sofyan Saori, pun akan menegur PSSI karena tidak berkoordinasi.

“Kami akan memberikan surat teguran supaya mereka mengelola ini lebih baik. Tidak ada kabar sama sekali bahwa akan ada penjualan tiket di sini, kami juga tidak pernah berkomunikasi dengan PSSI. Rencananya, Senin (29/10) akan kami panggil pihak penjual tiket ini [PSSI],” ujar Sofyan kepada CNNIndonesia.com (grup detikSport).

Sebagai bentuk kompensasi, Sofyan menggratiskan tiket parkir para suporter yang datang di Bellezza. Ya, sejak pagi, suporter telah memenuhi halaman gedung.

Sebelumnya, Manajer Gedung Bellezza, Hendy, mengeluhkan hal sama yaitu tidak ada informasi dari PSSI bahwa gedungnya akan dijadikan lokasi penjualan tiket.

“Kami tidak mendapat informasi apapun dari PSSI tentang penjualan tiket di sini. Harapan saya, kalau PSSI mau jual tiket, tolong informasikan ke kami. Kami kan bisa pasang pengumuman, pentunjuk, agar lebih jelas,” ujar Hendy.

Pada Jumat, PSSI menyatakan tiket akan dijual offline di Bellezza dan Blok S pada Sabtu dan Minggu.

“Kami akan cetak tiket on the spot sebanyak 29 ribu yang bisa dibeli di Blok S dan Belleza Permata Hijau,” kata Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, kemarin.

Komdis PSSI Akan Umumkan Sanksi Persib Pekan Depan

Tim investigasi PSSI masih bekerja untuk menyelidiki kasus meninggalnya suporter Persija Jakarta. Kemungkinan pekan depan bakal ada keputusan terkait itu.

Seperti diketahui, Haringga Sirila merenggang nyawa dikeroyok oleh oknum bobotoh menjelang pertandingan antara Persib Bandung melawan Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Haringga mengalami luka parah di bagian kepalanya.

PSSI pun sudah memutuskan untuk menghentikan kompetisi sementara waktu, sambil melalukan investigasi mengumpulkan fakta di lapangan. PSSI berjanji akan membuat sanksi tegas agar ada efek jera.

Wakil Ketua Komdis PSSI Umar Husin menjelaskan tim investigasi masih bekerja mencari kebenaran agar hukuman yang dikeluarkan tepat dan akurat. Keputusan akan diumumkan segera.

“Awal minggu ini kami sudah memutuskan sanksi apa yang diberikan kepada Persib. Investigasi masih dilakukan PSSI. Jadi awal pekan depan akan kami putuskan,” ujar Umar di acara diskusi sepakbola di Jakarta, Sbatu (29/9/2018).

Umar menilainya perlunya pembinaan kepada suporter yang dilakukan oleh klub masing-masing. Persija dianggap sudah menunjukkan perbaikan.

“Persib Persija itu sebetulnya bukan hal baru. Awalnya konflik pribadi dulu The Jak tidak banyak lalu jadi virus di kalangan The Jak dan Viking,” sambungnya. “Persib pernah disanksi lima kali tanding home tanpa penonton. Kemarin juga belum tahu penyebabnya apa. Minggu depan akan kami putuskan.”

“Ada empat kesebelasan punya fans fanatik semua di Jawa. Persija menunjukan tanda perbaikan pada pembinaan suporternya karena sampai sekarang belum terdengar lagi ada kasus dari Persija.”

Umar juga menilai perlunya sanksi individu kepada pelaku yang melakukan kekerasan. Salah satu hukumannya suporter tersebut tak boleh masuk ke stadion dengan waktu yang ditentukan.

“Sanksi individu turut dibutuhkan. misalkan di luar negeri suporter yang memiliki catatan kriminal pernah bunuh atau keroyok suporter lain itu tidak boleh lagi masuk stadion dan itu harusnya ada proses screening wajah. Dan di PSSI ada di statutanya tinggal pemerintah harus memfasilitasi itu,” tegasnya.