Arsip Tag: Ratu Tisha

Pemain Asing Tak Perlu KITAS untuk Main di Piala Presiden 2019

PSSI pastikan pemain asing yang bermain di Piala Indonesia 2019 tak memerlukan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS).

Sekjen PSSI, Ratu Tisha mengatakan pemain asing yang bermain di Piala Presiden 2019 hanya diwajibkan memiliki Visa Kunjungan Usaha.

Maksimal pemain asing yanng memperkuat klub hanya harus memiliki visa tersebut. Hal ini juga berlaku pada turnamen tahun lalu.

“Untuk proses imigrasi pemain asing, PSSI sudah berkoordinasi dengan BOPI pada pekan lalu dan kami sepakat dengan arahan BOPI,” ujar Ratu Tisha.

“Mengingat ini merupakan ajang uji coba bagi klub, kami akan menggunakan regulasi VISA, bukan KITAS,” katanya di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

“Alasannya kalau KITAS artinya sang pemain sudah bekerja di sini, sementara untuk Piala Presiden ini belum pasti pemain itu akan digunakan oleh klub saat kompetisi nanti,” tuturnya menambahkan.

Sedangkan untuk jumlah pemain asing yang boleh digunakan setiap klub, PSSI masih menerapkan kuota 3+1, perinciannya minimal satu pemain asing harus berasal dari Asia.

Regulasi Baru di Piala Indonesia: Klub Bisa Daftarkan 30 Pemain & Hukum Tim WO

PSSI menerapkan aturan baru di Piala Indonesia. Masing-masing tim peserta boleh mendaftarkan 30 pemain, PSSI juga akan hukum tim yang walk out.

Babak 32 besar Piala Indonesia bergulir mulai 22 Januari hingga 6 Februari. Pertandingan bakal menggunakan format kandang dan tandang.

Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menjelaskan ada perubahan regulasi, khususnya soal pendaftaran pemain. Yakni, setiap tim diperbolehkan mendaftarkan 30 nama.

Tisha menimbang regulasi itu bisa dimanfaatkan kontestan untuk seleksi pemain menuju kompetisi musim depan.

“Untuk babak 32 besar kali ini, selain persiapan untuk Piala Indonesia itu sendiri, PSSI membuka pendaftaran pemain baru. Jadi pemainnya itu boleh untuk tidak mengikuti regulasi pemain yang kemarin Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 di regulasi 2018. Jadi akan keluar regulasi baru, pemain boleh didaftarkan sebanyak 30 orang,” kata Tisha di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Nantinya, setiap tim peserta boleh mengganti tujuh pemain saat memasuki babak 16 dan 8 besar Piala Indonesia 2018. Tapi, tidak untuk babak semifinal hingga final.

“Dengan setiap babak di 16 besar dan 8 besar itu boleh diganti 7 orang. Jadi ada 23 pemain yang tetap terdaftar hingga babak final, namun di babak 16 besar dan 8 besar klub boleh mengganti maksimal 7 orang pemain. Hal ini dirasa penting untuk semua klub melakukan persiapan sebelum kompetisi dimulai. Klub bisa melakukan uji coba dengan baik, bisa juga turut meramaikan sepak bola yang ada di daerah dan seleksi yang di daerah,” Tisha menjelaskan.

Babak 16 besar Piala Indonesia dijadwalkan dilakukan pada 11 Februari sampai 19 Februari. Selanjutnya, babak delapan besar dimulai pada 24 Februari sampai 2 Maret, semifinal 7 dan 12 Maret, sedangkan final dihelat pada 17 dan 24 Maret.

PSSI Akan Tindak Tegas Klub yang Tak Ikut Babak 32 Besar Piala Indonesia

PSSI juga akan menerapkan sanksi tegas kepada klub yang mengundurkan diri dari Piala Indonesia atau tidak menggelar pertandingan. Sanksi bisa berupa hukuman hingga denda. “Ini di babak 32 besar akan lebih ketat, di regulasinya juga akan ada, apabila ada pengunduran diri ataupun tidak menyelenggarakan (pertandingan) dan lain sebagainya, ada sanksi tidak hanya berupa kalah, bisa juga berupa denda. Bisa juga dinaikan ke Komite Disiplin (Komdis PSSI), apabila itu dinilai adanya unsur kesengajaan,” kata Tisha.

“Jadi ini komitmen bagi klub-klub semua, dikarenakan kami harus menghargai langkah klub-klub yang telah terhenti di babak 128 dan 64 besar. Mereka tidak main-main dalam mempersiapkan itu. Jadi alangkah baiknya klub-klub baik Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 yang lolos ke babak 32 besar mempersiapkan diri dengan baik,” dia menambahkan.

PSSI Punya Mekanisme Ketat, Kenapa Masih Ada Wasit Kotor?

PSSI punya mekanisme yang tegas soal penunjukkan dan evaluasi performa wasit. Tapi, kenapa masih ada korps baju hitam kotor terlibat pengaturan pertandingan?

Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola kembali mengamankan satu tersangka terkait kasus pengaturan skor bernama Nurul Safarid. Dia adalah wasit yang memimpin pertandingan antara Persibara Banjarnegara vs Persekapas Pasuruan.

Nurul diciduk di Garut, Jawa Barat, Selasa (8/1/2019). Nurul disebut menerima uang suap senilai Rp 45 juta saat memimpin pertandingan tersebut untuk memenangkan Persibara.

Sebelum ini, Polisi sudah mengamankan Priyanto, yang sempat aktif di Komisi Wasit.

Untuk menjaga wasit tetap bersih, PSSI sebenarnya punya mekanisme penunjukkan dan evaluasi yang terdiri dari beberapa lapis. Evaluasi malah dilakukan tiga pihak. Pertama referee assessor PSSI yang ada di lapangan. Kedua referee teknikal direktur PSSI, dan ketiga melalui rekaman video yang dikirim ke JFA (federasi sepakbola Jepang). Di Jepang dilakukan evaluasi seluruh assessor PSSI.

“Ketiga pihak ini dikombinasikan dan (hasilnya) diberikan kepada komite wasit setiap pekan untuk diranking. Yang ini adalah performa terbaik dan ini performa terburuk. Wasit juga ketika melakukan tugasnya, sama dengan pemain, kadang ada yang dalam melakukan peak performa dan (ada) yang kurang,” terang Sekjen PSSI, Ratu Tisha.

Terkait penangkapan terhadap wasit Nurul yang kini berstatus tersangka pengaturan pertandingan Liga 3, Ratu Tisha menyatakan PSSI menghormati proses hukum yang ada. Dia juga mengatakan kalau evaluasi yang dilakukan Komisi Wasit dan PSSI sebatas kinerja teknis.