Arsip Tag: Ulasan Real Madrid Tahun 2015-2016

Ulasan Real Madrid Pada musim 2015-2016 ( END)

Bermain dengan tempo atau bermain dengan agresif dan kecepatan tinggi akan sangat menentukan siapa yang akan dipilih Rafa Benitez. Di sinilah kecerdikan dan kejelian Rafa Benitez saat menentukan pilihan akan diuji saat menghadapi lawan-lawan yang berat pada musim depan.

Rafa Benitez harus jeli dalam Lini Tengah. Stock di Lini tengah sangat melimpah., seperti Kovacic, Isco, Vazquez, Cherysev, Jese dkk., yang disinyalir akan menghangatkan bangku cadangan Real Madrid. Semua nama-nama itu akan membuat Rafa Benitez untuk bereksperimen dengan banyak variasi serangan.

Kepergian Iker Casillas sendiri langsung mendatangkan Kiko Casilla, salah satu kiper jebolan akademi La Fabrica milik Real Madrid. Kedatangan Kiko Casilla berarti memaksa Keylor Navas untuk bekerja lebih keras lagi guna menunjukkan dirinya lebih pantas dari rivalnya.

Secara teknis, Keylor Navas memang unggul dalam segi penyelamatan namun lemah dalam urusan duel udara dibandingkan dengan Kiko Casilla. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Namun, jika menganut senioritas, maka Keylor Navas mungkin akan menjadi kiper utama Real Madrid di Liga Spanyol musim depan.

Namun, lain cerita jika David de Gea resmi didatangkan Real Madrid. Persaingan tiga kiper yang hampir mempunyai kemampuan setara ini kan memaksa salah satu dari mereka untuk hengkang dan itu mungkin akan terjadi pada Keylor Navas. Tetapi itu tidak mungkin, De Gea ditahan sama pihak Manchester United

Persaingan ketat juga akan tersaji di bek kanan yang dihuni oleh Carvajal, Arbeloa dan Danilo. Rekrutan terbaru dari Porto tersebut sama-sama memiliki kemampuan yang baik dibandingkan Carvajal. Harganya yang mahal, setara dengan kualtas yang dia miliki. Bahkan, seorang Carlos Dunga (pelatih timnas Brazil) menyebut bahwa Danilo akan menyamai kualitas seorang Maicon, bek senior Brazil.

Kesimpulan

Pelatih Real Madrid, Rafa Benitez memang datang dengan sejumlah permasalahan. Kondisi yang tidak mendapatkan gelar satupun musim lalu adalah tantangan tersendiri bagi Benitez. Ia pasti ditargetkan untuk meraih trofi Liga Spanyol musim 2015-16, setidaknya untuk kancah Liga Spanyol yang terakhir mereka menangi pada musim 2011-2012 lalu bersama Jose Mourinho.

Merotasi skuat secara kontinyu sepertinya akan menolong Real Madrid agar tetap bugar ketika memasuki paruh kedua di awal 2016 nanti. Selain itu, hal tersebut akan mengurangi ketergantungan mereka terhadap seorang Cristiano Ronaldo yang terus bermain bagaikan mesin di musim lalu. Sekaligus untuk mencoba mengalihkan tumpuan mencetak gol kepada pemain lain yang opsinya cukup banyak.

Menerapkan kebijakan merotasi tidaklah mudah dilakukan di team bertabur bintang seperti Real Madrid. Tidak banyak pemain bintang yang bersedia dicadangkan.

Rafa Benitez harus membangun keharmonisan antara pemain inti, pemain cadangan dan pelatih. Jika keharmonisan dibangun, maka dengan sendiri feel atau kerjaasama akan tercipta. Inilah kekuatan terpendam. Jika kekuatan itu dibangun, maka tidak ada team yang bisa mengalahkan Real Madrid.

Ulasan Real Madrid Pada musim 2015-2016 ( Sesi I )

Klub yang paling banyak meraih Gelar La La Liga, Real Madrid Menjadi kesebelasan yang paling produktif, tetapi ini menggambarkan persoalan Real Madrid pada saat sekarang ini. Pada musim yang lalu, Real Madrid menghasilkan 118 gol yang diciptakan pada musim 2014-2015 dan kebobolan hanya 38 gol, tetapi tidak satupun meraih trofi apa pun. Mungkin ini satu-satunya kabar baik adalah Cristiano Ronaldo menjadi penyerang paling subur di liga Spanyol dengan 48 gol, lima gol lebih banyak dari Lionel Messi.

Banyak gol di musim lalu itu percuma, sayangnya lebih banyak terjadi ketika mereka menghajar tim-tim semenjana saja. Namun ketika melawan tim-tim kuat seperti Barcelona, Atletico Madrid, Valencia, Athletic Bilbao bahkan Villareal, mereka harus menanggung malu akibat menelan hasil imbang atau bahkan kekalahan.

Hasil buruk mereka pada bulan Januari baru kelihatan. Ada hal yang tidak beres dengan permainan Real Madrid ketika ditinggal Luca Modric yang cedera. Poros ganda Toni Kroos dan Luca Modric, yang dirancang sebagai motor utama oleh Carlo Ancelotti, pelatih saat itu tidak bisa diemban oleh pemain lain yang berstatus pemain pelapis. Pemain pelapis itu seperti Asier Illaramendi dan Sami Khedira yang kembali ke penampilan terbaiknya usai menderita cedera yang menjeratnya. Isco yang kerap diturunkan sebagai pemain tengah ternyata tidak sebaik penampilannya ketika menjadi gelandang serang.

Pada Musim lalu Carlo Ancelloti gagal merotasi teamnya. Imbasnya, sistem permainan yang diharapkan pun gagal dipraktekkan oleh para pemain pelapis. Tidak heran jika Carlo Ancelotti akhirnya harus didepak oleh sang presiden, Florentino Perez, dan digantikan oleh mantan jebolan akademi Real Madrid, Rafael Benitez.

Meski disambut dengan keraguan berbagai pihak, Rafael Benitez sebenarnya tidak bisa juga dianggap sebagai pelatih kacangan. Prestasi di liga Spanyol pun tidak perlu diragukan. Sudah dua kali ia membawa Valencia ke takhta tertinggi Liga Spanyol pada tahun 2002 dan 2004 lalu. Prestasi di level Eropa-nya pun cukup mentereng, baik bersama Liverpool dan Chelsea yang secara beruntun dibawanya menjuarai Liga Champions tahun 2005 dan Liga Europa 2013 lalu.

Bagaimanapun, seharusnya sudah mampu meyakinkan Para Fans Madrid untuk mempercayakan kunci komando Los Merengues musim depan ini. Setidaknya bisa menahan publik untuk tidak tergesa-gesa menilai.

Rafa Benitez mempunyai segudang pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Dia harus mencari formula baru dalam menerapkan kebijakan rotasi yang tidak dipakai oleh pelatih terdahulu.

Sambung ke Sessi II

Ulasan Real Madrid Tahun 2015-2016 ( Sesi II )

Nama Casemiro pun, yang relatif tidak sepopuler Kovacic, mempunyai kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh. Performanya di musim lalu bersama FC Porto sangat bagus.

Itulah yang membuat Rafa Benitez memanggilnya pulang. penampilan Casemiro bersama FC Porto di kancah liga Champions sangat menonjol dibandingkan gelandang tengah (jangkar) Real Madrid di ajang yang sama musim lalu. Sebagai informasi, Lucas Silva yang juga berposisi hanya bermain menjadi pemain pengganti saja.

Casemiro adalah gelandang jangkar bertipe petarung yang banyak mengandalkan kekuatan fisik sebagai senjatan utamanya. Catatan gemerlapnya dalam tekel, duel udara dan intersep sangat jauh dengan Toni Kroos, Luca Modric dan Illaramendi.

Hal ini menguntungkan bagi Real Madrid apabila bermain dengan poros ganda. Pilihan untuk menempatkan Casemiro sebagai salah satu poros ganda, jika memang diperlukan, tidak akan menjadi opsi perjudian.

Ia bisa bertandem dengan, misalnya, Luka Modric yang bertipe sebagai box-to-box midfielder dan mempunyai keunggulan dalam distribusi bola. Casemiro yang akan memastikan pertahanan Madrid dilindungi oleh benteng yang sangat kokoh.

Jika Luca Modric ditempatkan berdampingan dengan Casmiro. Mau di taruh dimana posisi Toni Kroos. Meski berat dalam persaingannya, nampaknya opsi ini patut dipertimbangkan oleh Rafa Benitez untuk musim depan. Kemampuannya mengalirkan bola menuju sepertiga akhir sangat baik. Meski tak seagresif James Rodriguez atau Isco sekalipun, pilihan ini tentu tidak buruk-buruk banget bagi Real Madrid.

Namun, tampaknya Rafa Benitez mempunyai opsi lain dengan menempatkan Gareth Bale di posisi free role no.10 di musim depan. Dan itu sudah dilakukan Rafa di beberapa pertandingan uji coba pra-musim 2015-16. Posisi itu pun bukan hal aneh baginya karena sudah ia kenali semenjak di Tottenham Hotspurs dulu.

Gareth Bale memang tidak ideal dalam mengalirkan umpan untuk dijadikan Gol oleh para juru gedor Madrid. Ia hanya unggul dalam total tendangan dengan rataan 3,32 tendangan per laga.

Justru itu kelebihannya. Gaya main Gareth Bale di Tottenham Hotspurs yang menjelajah segala sisi dan berakhir dengan tendangan-tendangan jarak jauh menawarkan opsi lain bagi Real Madrid jika ingin bermain dengan cepat dan efektif.

Permasalahannya, jika ditempatkan di tengah, Bale yang kidal besar kemungkinan akan sering bertumbukan dengan Ronaldo sering bergerak dari kiri lalu melakukan cutting inside ke kotak penalti.

Rafa Benitez di sini mempunya tiga pilihan terkait posisi no.10: masih mengakomodir James seperti apa yang ia lakukan musim lalu, atau menempatkan Bale sebagai free role atau bahkan memakai jasa Toni Kroos sebagai pengatur serangan di belakang penyerang tunggal Real Madrid.

Bersambung di Sessi End